Rusdi Kirana Bos Lion Air Layak Jadi Pahlawan Nasional Indonesia

Makanan Paling Mahal di Dunia

Sepertinya kontroversial. Iya !
Masih hidup kok jadi pahlawan. Kenapa tidak ? Buat apa gelar pahlawan kalau tidak membanggakan pemiliknya ? Kalau Om Rusdi Kirana diberi gelar pahlawan sekarang, minimal ada kebanggaan buat beliau dan minimal Indonesia membuat sejarah baru di dunia untuk kategori penganugerahan gelar pahlawan.
Pahlawan Indonesia, gelar itu berbeda kelas dengan gelar kehormatan2 lainnya. Beda dengan Doktor Honoris Causa, Satya Lencana Bla Bla Bla dan lainnya. Gelar Pahlawan Indonesia mencakup aspek pengakuan lingkup geografis,demografis serta pengaruh sekaligus manfaat yang luas dari sabang sampai merauke. Pengaruh positifnya harus sangat besar dan luas.
Soekarno, Sudirman, Hatta dan lainnya jelas layak menjadi pahlawan karena memotori kemerdekaan. Menjadikan modal kemerdekaan yang melahirkan kebebasan penuh pada masyarakat dari sabang sampai merauke untuk hidup mandiri. Bebas sekolah, bebas bekerja, pokoknya bebas mandiri. Walaupun sampai tahun 1975 Indonesia juga masih termasuk negara miskin buanget. Negara super susah. Toh, Soekarno Hatta masih sangat layak jadi pahlawan Indonesia.

Nah sekarang, apa jasa2 dan pengaruh positif Om Rusdi Kirana, bos Lion Air itu ?
Lalu, dalam periode 15 – 20 tahun yang lalu sampai sekarang siapakah yang layak dipertimbangkan sebagai Pahlawan Indonesia ?

Premium WordPress Themes

Baik, menurut saya, dalam periode 15 – 20 tahun yang lalu sampai sekarang, belum ada yang layak untuk dipertimbangkan menjadi pahlawan kecuali Om Rusdi Kirana. Kita ambil kandidat misalnya : Soeharto, SBY,Bob Sadino, Liem Sie Liong, PLN .
Soeharto besar pengaruhnya tetapi lumayan banyak korbannya. SBY, Bob Sadino, Liem Sie Liong rasanya belum layak juga. Influencenya Liem Sie Liong cukup global. Perusahaanya banyak tetapi termasuk perusahan pembabatan hutan, explorasi tambang dan untuk otomotif juga kebanyakan material dan barang jepang. Perusahaan Consumer Goods-nya hanya menggantikan penggunaan2 dari samphoo, sabun, odol dari abu merang diganti samphoo detergent saja. Kalau masyarakat Indonesia pakai samphoo abu merang ya fine2 saja. Lebih ekonomis malah. Indomie ? Sarimi ? Pop Mie ?  Halah, makanan ini bersama segala macam Rokok ( walaupun saya perokok ) yang membuat Indonesia tidak maju2. Saya akan bahas pada session yang lain. Jadi belum layak. PLN ? Dia bukan manusia ! Dan tidak ada pahlawan di tubuh PLN.

Now, back to Om Rusdi Kirana.

Om Rusdi mengawali bisnis penerbangannya pada Oktober 1999. Dengan modal awal US$10 juta, beliau menggagas “revolusi” dalam dunia penerbangan dengan konsep berbiaya murah (low cost carrier). Gebrakannya itu membuat repot sesama perusahaan penerbangan. Kini, Lions Air bersama Batik Air dan Wings Air landing di hampir semua kota besar dan kota kecil Indonesia asal landasan pacunya bukan lumpur.

Apa sih hebatnya Om Rusdi Kirana? Ini dia !

Testimony :
Tahun 1997 saya masih ingat betul penerbangan pertama kali saya pakai uang dinas ( Tukang Bubur bisa juga nyambi jadi karyawan BUMN lho ! Atau karyawan BUMN bisa nyambi jadi Tukang Bubur ? ). Pakai Merpati Air. Boeing-nya masih kuno. Banyak anak2 kecoaknya. Jakarta to Alor, Kalabahi,NTT. Muahaaalnya minta ampun tiketnya. Pokoknya naik pesawat dan tiket bekasnya masih bisa dipamerin lah. Serasa orang kaya ! Kalau jaman sekarang mungkin tiket bekasnya masih layak banget di upload di Instagram, FB atau sekalian Path.

Melihat ibukota NTT seperti melihat kota kecamatan di Jawa. Apalagi Kalabahi. Wadhuh ...Lalu tahun 1999 saya tugas di Tual, Maluku Tenggara. Perjalanan pindah naik kapal Pelni karena nggak mungkin kebeli tiket pesawat buat sekeluarga yang masih sangat mahal. Makassar - Tual, naik kapal KM Bukit Siguntang 4 hari, 3 malam. Kebayang ? kota Tual waktu itu seperti kota kelurahan Jawa. Persis ! Barang2 muahaaal. Mana masih rusuh karena jarang lihat pesawat kali. Pokoknya udik bin ndeso.

Saking mahalnya tiket pesawat komersil, dalam kondisi darurat pengin cepat pulang mudik lebaran dan tiket Pelni penuh, kami pernah naik pesawat TNI-AU yang katanya HERCULES, ternyata CN-235 saja. Duduknya berhadap2an sepanjang sisi kabin pesawat. Pakai bangku kain panjang. Dibawah bangku kain penuh muatan barang. Saling berhadapan tapi tak saling melihat. Kenapa bisa ? Karena bagian tengah diisi full barang2 entah paket, entah logistik, sampai 5 cm dibawah roof cabin. Karena beban sangat maksimum bahkan saya yakin jauh melebihi maximum payload, maka ketika lewat turbulensi udara serasa naik roller coaster neraka. My only First and will be the Last flight together with TNI-AU. Such a bad experience. Never again ... Sorry ...

Wah kepanjangan. Sekarang lihat, Lion Air dan groupnya telah menumbangkan penerbangan2 mahal. Kota2 kecil seperti Tual, Kalabahi,NTT dan lainnya begitu mudah terhubung ke pusat kemajuan. Terhubung manusianya dan logistiknya. Serta terhubung mata dan otaknya. Lihatlah betapa faktor kemudahan transportasi yang dikomporim oleh Lion Air mampu mengubah segala macam dimensi. Kemajuan dan modernisasi bergerak merata. Purworejo – Ujung Pandang tak terasa begitu jauh seperti saat tahun 1997 lalu. Jakarta, Jogja ke Ujung Pandang sekarang sudah seperti tinggal menjentikkan jari. Anak jawa yang merantau ke Kalimantan, atau Tual sudah tidak perlu ditangisi oleh ibu bapaknya lagi. Karena jika tidak betah di sana, besok pagi sudah bisa beli tiket untuk balik lagi.

Lion Air dengan expansinya telah membuka pintu keterbelakangan, ke-udik-an, dan ke-kampung-an polosok Indonesia. Komoditi pelosok menjadi terekspose global dan mempunyai value. Manusia pelosok menjadi berani menantang kancah global. Lion Air telah mengubah tangisan dan air mata seorang bapak yang melepas putra purinya merantau menjadi senyum mengembang dan tepukan punggung optimisme. Lion Air telah mengubah pandangan trasportasi adalah mahal, lama dan penuh perjuangan menjadi singkat dan on a reasonable,reliable tends to efficient price.

Belum terhitung jasa banyaknya tenaga yang terserap, jumlah sisa uang tiket perjalanan dinas para pengumpul sisa perjalanan dinas, keuntungan para mitra dan stake holder, pajak negara dan seabgreg abreg jasa Lion Air lainnya.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan faktor delay penerbangan, work under pressure-nya karyawan, pilot dan lainnya. Bisnis penerbangan yang mengurus logistik dan manusia bukanlah bisnis skala kacang. Banyak faktor yang harus sangat diperlakukan sangat teliti, hati-hati dan harus pada garis lurus standard prosedur yang sangat ketat. Banyak teknologi dan human attitude yang terlibat. Banyak human resource yang terkuras. Ibarat jika bisnis property menghadapi 1000 faktor potensial frauds, maka bisnis penerbangan logistik dan manusia harus menantang 1000000 macam potensial frauds. Bukan semudah bisnis yang mengubah mata air publik dikemas ala kadarnya dan dibumbui bombastis menjadi komoditi individu yang mahal layaknya AQUA, FIT, CLUB dan lainnya.

Hanya kumpulan manusia-manusia super yang bisa memotori majunya bisnis penerbangan. Dan untuk case Lion Air, motornya ternyata hanya seorang single man ,hidden under cover. He works behind the wall. Tidak pernah pasang nama. Bukan seperti SPBU Haji Rahmat atau Toko Baju Jonathan Sembiring atau PT OC Kaligis atau bahkan Susi Air. Om Rusdi Kirana. Alone. Completely Splitted with his Company Brand. Tetap Lion Air, Wings Air dan Batik Air. Layak beliau jadi Pahlawan Nasional.
Meskipun beliau tetap manusia yang punya ambisi, visi dan misi. Toh Pahlawan Nasional Soekarno, Hatta dan lainnya adalah juga tetap manusia dan laki-laki yang punya ambisi, visi dan misi.

Meskipun tetap ada kesalahan kecil. Jika Batik Air ingin menggeser Garuda Indonesia, maka namanya harus diubah menjadi selevel ELITE AIR, KING AIR, QUEEN AIR atau sejenisnya.

Banyak lagi yang ingin saya sampaikan betapa besarnya jasa dan sumbangsih negeri ini oleh Lion Air. Dan terbayang seperti apa Indonesia jika saat ini, hari ini, tiba2 Lion Air collapse.

So, Thank You Om Rusdi Kirana ! Selamat !

Tapi jangan takabur ya, beruntung sampai saat ini, menurut pandangan saya,logika saya, Anda ditakdirkan menjadi manusia berguna.

Catatan : Ini adalah pandangan pribadi saya. Saya Muslim dan tak ada hubungan darah, kulit, nasi , piring, sendok atau bahkan tetanggaan satu RT dengan Om Rusdi Kirana. Dan saya tak punya utang uang atau rokok sama beliau. Saya sebut Om Rusdi Kirana sebagai rasa hormat saya. Apapun Attitude dan Ambisi personal Om Rusdi Kirana tidak berpengaruh terhadap respect of positive influences of Lion Air buat negaraku, Indonesia
Merdeka !!!

Next Story : Bill Gates should be a World Hero

Bill Gates should be a World Hero

Lisensi Microsoft cukup mahal bagi sebagian besar orang tetapi sangat besar manfaatnya. Tatapi 80% PC warga dunia memakai lisensi crack, bodong. Dan Bill Gates tahu, tapi tetap membiarkannya.

Greater Respect to Marry, Mother of Isa As, than Our Biological Mother

Mother of Jesus

Marry, Maria, adalah wanita terpenting yang disebut secara khusus dalam Quran. She’s the most respected women entire the worlds. Beliau adalah wanita yang berserah diri mutlak kepada Penciptanya yang sangat minim kesalahan dan dosa.

There are 2 comments. Add yours

  1. 13th January 2016 | Yudha Samurai says: Reply
    Mantap. Agreed. Segera diusulkan ke DPR tuh. Eh..nanti dijegal @Jonan ?
  2. 6th November 2016 | Komentator says: Reply
    Wtf. Kayaknya masuk di akal. Baru nyadar...

Join the Conversation


*